Isu perubahan iklim telah menjadi salah satu isu global yang membutuhkan perhatian dan tindakan segara. Dampaknya yang semakin terasa di Indonesia, khususnya masalah polusi Jakarta yang semakin serius. Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalami lonjakan suhu yang luar biasa. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Oktober 2023, Jakarta dan Semarang mencatat rekor terpanas dalam 30 tahun terakhir.
Dengan situasi ini, pentingnya upaya kolaboratif dari semua pihak baik pemerintah, legislatif, dan juga pelaku usaha untuk melawan perubahan iklim dan melindungi lingkungan kita.
Isu Perubahan Iklim
Dalam wawancara dengan Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Seoparno, kami mendapatkan wawasan yang menarik tentang inisiatif yang dilakukan oleh PAN untuk memerangi perubahan iklim.
Partai Amanat Nasional (PAN) telah menginisiasi gerakan Birukan Langit Indonesia, bermaksud untuk membangun kesadaran menyelamatkan lingkungan. Gerakan ini tetap fun dan menyasar anak muda, namun dengan tindakan konkrit. Seperti gerakan zero waste dan membersihkan sampah dan kotoran bersama-sama setelah kegiatan konser atau senam bersama.
Sebagai Pimpinan Komisi VII DPR RI, Eddy Seoparno terus berupaya membangun kesadaran dengan kampanye yang terus menerus di media dan media sosial, termasuk mengajak anak-anak mahasiswa untuk membangun gerakan bersama menyelamatkan lingkungan. Eddy juag ikut merumuskan sekaligus memperjuangkan inisiatif RUU Energi Baru dan Terbarukan sebagai dasar hukum yang kuat untuk upaya transisi energi di Indonesia.
Selain itu, Eddy juga membagikan fakta-fakta yang menggelitik tentang tantangan yang kita hadapi dan tindakan yang harus diambil.
Menurut Eddy, Presiden Jokowi memberikan perhatian penuh pada isu perubahan iklim. Presiden Jokowi juga memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan akselerasi terhadap upaya Indonesia bebas emisi karbon dan sekaligus mewujudkan energi hijau. Namun mungkin yang perlu dibenahi adalah sinkronisasi kebijakan antar kementerian.
“Seperti kemarin isu polusi Jakarta, kementerian terkesan tidak siap dan tidak satu suara tentang penyebabnya. Jika tidak satu suara tentang penyebabnya maka bagaimana anda mau satu suara dan sinergis untuk solusinya? Inilah yang menjadi concern kami terhadap pemerintah,” ujar Eddy saat dihubungi, Selasa (12/12/2023).
Eddy juga menilai transisi energi misalnya itu membutuhkan biaya yang sangat besar untuk investasi dan ada investasi dengan jaminan yang kuat dan jelas dengan biaya sebesar itu. Eddy juga berharap dunia usaha bisa ikut memberikan kontribusinya pada berbagai insiatif masyarakat untuk mengatasi perubahan iklim dan menjaga serta merawat lingkungan.
Di sisi lain Eddy menyampaikan bahwa pemerintah dapat mengikuti kebijakan negara lain jika itu memang bisa memberikan dampak yang bermanfaat untuk Indonesia. Seperti Cooling Singapore yang dilakukan oleh Singapura, Semua pihak terlibat dalam gerakan ini baik pemerintah, swasta dan bahkan universitas serta lembaga riset.
“Yang mengalami masalah perubahan iklim bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia,” kata Eddy, “Sesuatu yang sangat bisa untuk kita tiru dan lakukan di Indonesia. Karena bagaimanapun penting untuk melibatkan sains dan ilmu pengetahuan menghadapi dampak perubahan iklim ini.”
Dalam mengakhiri wawancara ini, Eddy menyampaikan bahwa peningkatan kesadaran bergantung pada kolaborasi individu yang semakin banyak dan meluas.
“Harapannya tentu semakin banyak lagi yang terlibat dalan gerakan menyelamatkan lingkungan dan menghadapi dampak perubahan iklim ini. Baik secara individu maupun kelembagaan,” tutur Eddy.
“Kalau kesadaran dan penegakan hukum ini seiring sejalan, saya yakin kita akan mampu mencegah dampak perubahan lingkungan,” tutupnya.




