Search
Close this search box.
October 06, 2026

Dr Hans Kristian: Makanan Tinggi Kolesterol Bukan Penyebab Kolesterol Tinggi

Dr Hans Kristian: Makanan Tinggi Kolesterol Bukan Penyebab Kolesterol Tinggi
Foto: Arsip dr. Hans Kristian

Sampai sekarang kolesterol tinggi adalah salah satu masalah yang dialami jutaan orang, bahkan bukan hanya di Indonesia. Dengan besarnya fenomena ini, makanan tinggi kolesterol kemudian menjadi momok dan punya predikat buruk di mata masyarakat. Belum lagi dengan simpang siurnya informasi kesehatan baik dari kalangan medis maupun masyarakat awam mengenai kolesterol itu sendiri.

Kolesterol ini bahkan sebenarnya bukan suatu penyakit, ungkap dr Hans Kristian, salah satu dokter sekaligus ahli gizi yang menjadi narasumber aktif di Youtube channel SB30 Health. Kolesterol adalah bahan baku yang menyerupai lemak dan punya banyak manfaat dalam metabolisme tubuh. Bahkan kolesterol diproduksi setidaknya 80% oleh tubuh kita sendiri, yang terbesar adalah di liver dan usus halus.

Jadi selama ini yang dikatakan penyakit kolesterol itu adalah hasil dari penumpukan dan penyumbatan dari pembawa kolesterol (LDL), meskipun jenisnya juga bukan hanya satu.

Mitos Makanan Tinggi Kolesterol dan Dampaknya Terhadap Kesehatan

Sampai sekarang belum ada studi ilmiah yang menyatakan bahwa makanan tinggi kolesterol yang menyebabkan penyakit kardiovaskular (penyakit jantung, stroke, dll). Bahkan sebaliknya beberapa studi terbaru salah satunya dari JAMA Internal Medicine tahun 2022 menyatakan tidak ada hubungan konsisten antara kolesterol yang tinggi dan penyakit kardiovaskular.1https://tinyurl.com/49r59knz

Lalu darimana datangnya predikat buruk makanan tinggi kolesterol itu? Ini semua dari kesalahpahaman dan minimnya edukasi kesehatan di kalangan masyarakat awam. Kolesterol makanan itu berbeda dengan kolesterol dalam darah, ucap dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini.

Foto: Arsip dr. Hans Kristian

Dokter Hans yang selama ini banyak membantu pasien dengan penyakit metabolik termasuk penyakit kardiovaskular di kliniknya, mengatakan bahwa tidak semua makanan yang tinggi kolesterol itu perlu dihindari. Itu tergantung dari sumber, proses pengolahan, dan kombinasi menunya. Dok Hans, sapaan dr Hans Kristian, CSN, PN1 memang sangat aktif membagikan tips seputar kesehatan di kanal Youtube SB30 Health, instagram pribadinya @itshanspra, akun tiktoknya @itshanspra , dan juga sebagai narasumber di berbagai media massa.

Beberapa tips yang disampaikan dokter Hans dan bisa dipraktikkan siapa saja untuk menghindari penumpukan LDL yang berlebihan dalam darah adalah sebagai berikut :

1. Kurangi asupan gula dan karbohidrat olahan

Selama ini banyak orang yang lebih was-was dengan kolesterol dan lemak makanan, padahal asupan gula dan karbohidrat olahan (mi, roti, kerupuk, keripik, bolu, dll) yang berlebihan inilah yang meningkatkan LDL, trigliserida, dan indikator penyakit kardiovaskular yang lain.

Uniknya, gula ini sering tersembunyi dan banyak orang yang tidak menyadari ketika mereka konsumsi menu yang tinggi gula. Bahkan di dalam produk kemasan banyak nama gula yang tidak disebut sebagai gula, misalnya dextrose, maltodextrin, molasses, dll. Belum lagi dengan kebiasaan makan orang Indonesia yang pada umumnya tinggi karbohidrat, karena apapun karbohidratnya kecuali serat akan dipecah dalam tubuh menjadi glukosa (gula)

2. Hindari makanan yang diproses secara berlebihan (ultra processed food)

Batas berlebihan ini memang yang perlu dipahami, masyarakat karena ada perbedaan mendasar antara makanan yang diproses secara wajar, misalnya soto ayam, ikan bakar, daging rendang, dll berbeda dengan makanan yang diproses secara berlebihan seperti sosis, nugget, crabstick, bakso, dll

Ultra processed food ini mempunyai  ciri khas bentuknya sudah jauh berbeda dengan bahan baku asalnya, ditambahkan bahan kimia sintetis, dan memiliki rasa yang sangat umami sampai membuat ketagihan.

See also  Kiat Jitu Mudah Lolos BUMN, Download Soal RBB BUMN 2024 PDF Gratis

Dampak dari ultra processed food ini dapat membebani kerja organ liver yang kemudian dapat menganggu metabolisme kolesterol dalam tubuh dan memicu perdangan, salah satunya di jantung dan pembuluh darah

3. Perhatikan sumber lemak jenuh

Kalau selama ini banyak yang mencap lemak jenuh adalah lemak jahat, faktanya tidak semua lemak jenuh itu berbahaya untuk kesehatan. Lemak jenuh yang berasal dari sumber alami seperti daging merah, virgin coconut oil (VCO), bahkan santan kelapa asli sebenarnya tidak berdampak negatif untuk kesehatan selama dikonsumsi sesuai kebutuhan dan proses pengolahannya benar

Batasan untuk pasien yang sudah memiliki masalah kardiovaskular memang berbeda dengan orang yang sehat secara metabolik. Kalau sudah punya masalah kesehatan lebih baik konsultasikan dulu ke dokter dan ahli gizi bagaimana pengaturan asupan lemak yang baik, karena jenis lemak itu banyak dan lemak juga merupakan salah satu makronutrisi yang sangat diperlukan oleh tubuh

Alpukat, kacang-kacangan (nuts), biji-bijian (seeds), atau minyak zaitun bisa menjadi sumber lemak pilihan untuk siapapun yang memang perlu membatasi asupan lemak jenuh

4. Kurangi atau hindari gorengan

Sekalipun menggunakan minyak yang bebas kolesterol atau bahan yang digoreng bebas kolesterol, bukan berarti itu semua tidak meningkatkan kolesterol LDL dalam darah.

Karena seperti yang sudah disampaikan dr Hans sebelumnya, kolesterol makanan itu berbeda dengan kolesterol dalam darah. Salah satu faktor terbesar yang menyebabkan peningkatan LDL adalah peradangan, dan ini kontribusinya sangat besar dari makanan yang digoreng

Gorengan yang dimaksud di sini adalah deep frying, berbeda dengan metode menumis atau mengoseng (saute / stir fry) dan sebaiknya hindari minyak yang tinggi omega 6 misalnya minyak jagung, minyak kanola, minyak kedelai, dll

5. Jangan mager

Tidak harus melakukan olahraga yang berlebihan meskipun olahraga itu sangat penting. Aktivitas fisik non olahraga pun juga penting untuk diperhatikan terutama bagi orang yang masih belum mampu atau mau berolahraga.

Mager (= males gerak) adalah salah satu penyebab gangguan metabolisme tubuh karena ini juga berdampak pada keseimbangan hormonal. Apalagi dengan pola hidup yang serba instan, aktivitas fisik juga memegang peranan yang penting dalam menjaga kadar LDL

Perbanyak langkah kaki atau pilih tangga untuk naik turun adalah beberapa cara mudah yang bisa kita pilih untuk tetap aktif bergerak.

Jadi kalau sudah melakukan semua ini apa pasti terbebas dari penyakit kardiovaskular ?

Tentu saja ini semua sangat membantu tapi bukan berarti tidak ada risiko, ujar dokter kelahiran Surabaya, 22 Mei 1990 itu. Penyakit kardiovaskular juga bisa disebabkan karena faktor lain seperti merokok, konsumsi alkohol, genetik (kelainan bawaan), meskipun faktor yang terbesar tetap pola hidup.

Karena demikian, sebaiknya masyarakat tetap melakukan pemeriksaan secara berkala terutama cek darah setiap tahun sekali atau setiap 6 bulan sekali untuk yang lebih berisiko. Jangan terlalu pede dengan apa yang kita lakukan karena manusia itu tidak luput dari kesalahan, ujar dokter Hans.

 

News Feed merupakan platform distribusi siaran pers. Pemberitaan yang tayang di platform ini bersumber dari press release yang diterbitkan oleh perorangan, lembaga, dan biro periklanan.

Serangan jantung merupakan salah satu pembunuh nomor satu di dunia. Menurut data WHO Global Health, setidaknya ada 18.6 juta kematian

[the_ad id="7743"]
Related Articles
News Feed - Press Release Distribution Platform

PRESS RELEASE
DISTRIBUTION PLATFORM

SUBMIT YOUR PRESS RELEASE
AND GO LIVE FOR FREE

SUBMIT YOUR PRESS RELEASE AND GO LIVE
FOR FREE

SAVE 10% ON
YOUR FIRST ORDER